Kaltim.radar24.co.id, Di tengah perubahan besar dunia media yang bergerak sangat cepat, profesi wartawan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Informasi kini mengalir tanpa batas, media sosial sering kali mendahului proses verifikasi, sementara kepentingan politik dan ekonomi kerap memengaruhi arah pemberitaan.
Dalam situasi seperti itu, keberadaan jurnalis yang tetap menjaga idealisme menjadi semakin penting. Salah satu sosok yang menaruh perhatian besar terhadap nilai-nilai tersebut adalah Mikael Risdiyanto Setyabudi Jurnalis Pikiran Rakyat Media Network.
Mikael dikenal sebagai figur yang memiliki perhatian kuat terhadap isu hukum, sosial, dan terutama persoalan korupsi. Ketertarikannya pada dunia jurnalistik lahir bukan sekadar karena profesi ini memberi ruang untuk menulis dan menyampaikan informasi, melainkan karena ia melihat pers sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga kehidupan demokrasi.
Sejak awal menekuni dunia media, Mikael memandang bahwa wartawan memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan fakta secara jujur kepada publik.
Baginya, berita bukan sekadar rangkaian kata yang memenuhi ruang halaman media, tetapi sebuah instrumen kontrol sosial yang dapat memengaruhi arah kebijakan dan kesadaran masyarakat.
Pandangan itu sejalan dengan pemikiran tokoh pers dunia Joseph Pulitzer yang pernah mengatakan, “Our Republic and its press will rise or fall together.” Sebuah bangsa dan persnya akan bangkit atau jatuh bersama-sama. Kutipan tersebut menggambarkan betapa pentingnya peran media dalam menentukan kualitas demokrasi sebuah negara.
Ketertarikan pada Isu Korupsi
Salah satu bidang yang paling menarik perhatian Mikael adalah pemberantasan korupsi. Ia melihat korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi persoalan moral dan sosial yang berdampak luas terhadap kehidupan rakyat.
Dalam berbagai tulisan dan liputannya, Pria kelahiran Kabupaten Cilacap tersebut sering menyoroti kasus dugaan suap, penyalahgunaan jabatan, hingga dinamika penegakan hukum di tingkat daerah.
Fokus tersebut lahir dari keyakinannya bahwa praktik korupsi adalah akar dari banyak persoalan bangsa, mulai dari ketimpangan sosial, buruknya pelayanan publik, hingga rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Inspirasi terhadap keberanian membongkar persoalan korupsi salah satunya datang dari sosok George Junus Aditjondro (Almarhum).
Tokoh ini dikenal luas karena keberaniannya mengungkap relasi kuasa dan praktik korupsi di Indonesia, bahkan ketika harus menghadapi tekanan dari berbagai pihak.
Bagi Mikael, keberanian intelektual seperti itulah yang harus dimiliki insan pers.
Wartawan tidak boleh sekadar menjadi penonton atas penyimpangan kekuasaan, melainkan harus mampu menjalankan fungsi pengawasan demi kepentingan publik.
Pandangan tersebut mengingatkan pada pernyataan wartawan legendaris Carl Bernstein, salah satu pengungkap skandal Watergate, yang mengatakan bahwa “Journalism is the first rough draft of history.” Jurnalisme adalah draft pertama sejarah.
Artinya, setiap berita yang ditulis wartawan memiliki nilai penting dalam membentuk ingatan kolektif masyarakat.
Menempatkan Pers Sebagai Kontrol Sosial
Dalam perjalanan jurnalistiknya, Mikael menaruh perhatian besar pada fungsi pers sebagai kontrol sosial. Ia percaya media harus menjadi ruang yang mampu menyuarakan kepentingan masyarakat, terutama kelompok yang sering kali tidak memiliki akses terhadap kekuasaan.
Karena itu, banyak tulisannya menyoroti persoalan rakyat kecil, proses hukum yang dinilai belum transparan, serta berbagai polemik kebijakan publik di daerah. Ia berusaha menghadirkan sudut pandang yang tidak hanya melihat perkara dari sisi formal hukum, tetapi juga dampaknya terhadap rasa keadilan masyarakat.
Di era modern, tantangan terbesar media bukan hanya tekanan politik, tetapi juga arus disinformasi yang sangat cepat.
Banyak informasi viral beredar tanpa verifikasi yang memadai. Dalam situasi tersebut, Mikael tetap meyakini bahwa verifikasi adalah jantung utama jurnalistik.
Hal itu sejalan dengan prinsip yang sering dikemukakan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Elements of Journalism, bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran.
Bagi Mikael, wartawan harus mampu menjaga jarak dengan kepentingan tertentu agar berita yang dihasilkan tetap independen. Independensi bukan berarti memusuhi kekuasaan, tetapi memastikan bahwa kepentingan publik tetap menjadi prioritas utama.
Gaya Penulisan yang Kritis dan Lugas
Dalam berbagai karya jurnalistiknya, Mikael dikenal memiliki gaya penulisan yang lugas dan langsung pada substansi persoalan. Ia berusaha menghindari bahasa yang bertele-tele dan lebih memilih menyampaikan fakta secara runtut agar mudah dipahami pembaca.
Namun di balik gaya yang lugas tersebut, terdapat upaya untuk tetap menjaga kedalaman analisis. Ia tidak hanya menampilkan peristiwa permukaan, tetapi juga mencoba membaca konteks sosial dan politik di balik sebuah kasus.
Pendekatan itu membuat banyak tulisannya memiliki nuansa investigatif, terutama ketika membahas persoalan dugaan korupsi dan penyalahgunaan kewenangan.
Ia percaya bahwa wartawan harus memiliki keberanian untuk bertanya dan menggali informasi secara mendalam.
Prinsip itu senada dengan ungkapan Anna Politkovskaya yang pernah berkata, “Without journalism there are no freedoms.”
Tanpa jurnalisme, tidak ada kebebasan. Kutipan tersebut menegaskan bahwa kebebasan pers memiliki hubungan erat dengan kebebasan masyarakat secara luas.
Tantangan Jurnalisme di Era Digital
Perubahan teknologi telah mengubah wajah media secara drastis. Kini siapa saja dapat menjadi penyebar informasi hanya melalui telepon genggam.
Kondisi ini membawa dampak positif sekaligus tantangan besar bagi dunia jurnalistik.
Di satu sisi, akses informasi menjadi semakin terbuka.
Namun di sisi lain, muncul persoalan banjir informasi, hoaks, dan polarisasi opini publik. Dalam situasi tersebut, wartawan dituntut bekerja lebih cepat sekaligus lebih akurat.
Mikael melihat bahwa tantangan terbesar wartawan masa kini bukan sekadar mendapatkan berita, tetapi menjaga kredibilitas di tengah derasnya arus informasi yang belum tentu benar.
Ia percaya bahwa media yang mampu bertahan adalah media yang menjaga integritas. Kepercayaan publik tidak dibangun melalui sensasi, melainkan melalui konsistensi menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pandangan itu sejalan dengan pemikiran Walter Cronkite yang dikenal sebagai salah satu ikon jurnalisme televisi dunia. Cronkite pernah mengatakan, “Freedom of the press is not just important to democracy, it is democracy.”
Kebebasan pers bukan hanya penting bagi demokrasi, tetapi merupakan demokrasi itu sendiri.
Menjaga Idealisme di Tengah Tekanan
Menjadi wartawan yang kritis tentu bukan perkara mudah. Dunia jurnalistik sering kali berhadapan dengan tekanan politik, ekonomi, bahkan intimidasi ketika menyentuh kepentingan tertentu.
Namun bagi Mikael, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari konsekuensi profesi. Ia percaya bahwa wartawan harus memiliki keberanian moral untuk tetap berpihak pada fakta dan kepentingan publik.
Keberanian itu bukan berarti bertindak sembrono, melainkan tetap bekerja berdasarkan data, verifikasi, dan etika jurnalistik.
Dalam pandangannya, wartawan harus mampu menjaga keseimbangan antara keberanian dan tanggung jawab.
Prinsip tersebut mengingatkan pada sosok Bob Woodward yang dikenal melalui liputan Watergate bersama Carl Bernstein. Woodward pernah menegaskan bahwa tugas utama wartawan adalah mencari fakta, bukan membela kekuasaan ataupun menjadi alat propaganda.
Bagi Mikael, jurnalisme yang sehat adalah jurnalisme yang mampu menjaga independensi sekaligus keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat luas.
Pers dan Masa Depan Demokrasi
Dalam perjalanan panjang sejarah, pers selalu memiliki hubungan erat dengan demokrasi. Media yang bebas dan independen menjadi salah satu syarat penting agar masyarakat dapat mengawasi jalannya kekuasaan.
Mikael memandang bahwa peran tersebut masih sangat relevan hingga hari ini. Ketika masyarakat kehilangan akses terhadap informasi yang jujur dan terpercaya, maka ruang demokrasi perlahan akan melemah.
Karena itu, ia menilai wartawan tidak boleh berhenti belajar dan meningkatkan kualitas diri. Kemampuan memahami data, membaca regulasi, hingga menguasai teknik investigasi menjadi hal penting dalam menghadapi perkembangan zaman.
Selain itu, ia juga percaya bahwa jurnalisme harus tetap memiliki dimensi kemanusiaan.
Berita bukan hanya soal angka dan fakta, tetapi juga tentang manusia yang terdampak di balik sebuah peristiwa.
Pada akhirnya, kiprah Mikael Risdiyanto Setyabudi mencerminkan satu hal penting: bahwa di tengah perubahan zaman dan tantangan media modern, idealisme jurnalistik masih memiliki tempat.
Melalui perhatian terhadap isu korupsi, keadilan sosial, dan fungsi kontrol pers, ia berupaya menjaga agar media tetap menjadi ruang yang berpihak pada kepentingan publik.
Seperti kata George Orwell, “Journalism is printing what someone else does not want printed; everything else is public relations.”
Jurnalisme adalah menerbitkan sesuatu yang tidak ingin diterbitkan pihak lain; selebihnya hanyalah hubungan masyarakat.
“Kutipan itu menjadi pengingat bahwa tugas wartawan bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga keberanian untuk menghadirkan kebenaran di tengah berbagai tekanan dan kepentingan,” tandas jurnalis yang pernah lama bertugas di Indonesia Timur.

