Kaltim.radar24.co.id, PENAJAM, Tujuan memperingati maulid nabi Muhammad SAW ialah untuk mncontoh suri tauladan kehidupan beliau, hal ini dungkapkan oleh KH Huhammad Ali Kholil Lora Adlan Ali pada Pengajian Umum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus memperingati HUT Kemerdeaan RI ke 81 di Masjid Nurul Huda, RT 08 Desa Giripurwa, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Jumat 21/8/2026.
KH M Kholil menambahkan bahwa tempat ia berceramah saat ini merupakan wilayah IKN dimana IKN tak lama lagi akan menjadi ibukota politik, disitu nantinya Presiden RI dan Wakil Presiden beserta para menterinya akan pindah berdomisili di kawasan IKN tersebut.
“Dua bulan sebelum IKN dinyatakan resmi beroperasi ada pihak yang meminta agar IKN diselamati dahulu melibatkan para santri, artinya ada kemungkinan para santri dari pondok pondok pesantren binaan Pengurus NU melaksanakan acara keagamaan seperti istighotsah Kubro atau doa bersama,” ujar KH Kholil.
“Semoga dengan kegiatan keagamaan dan doa bersama ini mendatangkan berkah, perlindungan dari Allah SWT terhadap calon penghuni yang akan menempati IKN, selain itu yang lebih penting lagi ialah kita berharap orang orang yang menempati IKN nantinya adalah orang orang yang amanah,” tegas beliau.
Terlebih mereka itu nantinya adalah mayoritas para aparat Pemerintahan, dan semoga mereka beserta keluarganya mendapat taufik hidayah dan ma’unah dari Allah SWT, mudah mudahan negara Kesatuan Republik Indonesia ini dijadikan Allah sebagai negeri yang baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafur,” harap KH Kholil.
Peringatan Maulid yang sering diadakan untuk selalu mengingatkan kita umat Islam agar lebih mencontoh suri tauladan dari Rasulullah, juga kepada masyarakat kita saat ini adalah penting untuk meniru cara bermasyarakatnya beliau.
Seperti yang dicontohkan rasulullah pada saat berada di Kota Madinah, dimana ada dua kelompok suku yang harus dipersatukan yakni kelompok Muhajirin yang datang dari kota Mekkah dengan kelompok Ansor yaitu penduduk asli Kota Madinah, dengan penuh santun dan bijaksana Rasulullah berhasil memperatukan kedua kelompok tersebut.
Dengan ajaran agama Islam yang Rahmatan lil-alamin, yang penuh dengan sikap toleransi beliau berhasil menyatukan kelompok warga yang berbeda agama, dimana pada saat itu penduduk Madinah terdiri dari Kaum Muslimin, Nasrani dan Yahudi dapat hidup berdampingan secara damai dibawah perlindungan bendera Islam.
Diketahui pada saat rasulullah datang ke Madinah beliau berusaha mengumpulkan semua suku meski berbeda suku dan agama, namun dibawah bimbingan rasul mereka sepakat untuk membela negara yang berdasarkan negara Islam Darussalam.
Sehingga pada satu waktu ada pemimpin negeri kita yang pernah meniru apa yang diterapkan rasulullah, dan penduduk Indonesia pada saat itu modelnya sama dengan penduduk Madinah, terdiri dari berbagai suku bahkan agama.
“Hendaknya kitapun saat ini harus menjunjung tinggi sikap toleransi, tolong menolong satu sama lainnya, adapun keperacaayaannya lakum dinukum waliadin, para ulama ikut andil dalam mendirikan dan memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), meniru apa yang dilakukan rasulullah sehingga indonesia yang berdasarkan Pancasila ini adalah bagian dari jasa Para ulama,” tutup Kiyai


