Kaltim.radar24.co.id, KEDIRI – Rencana pengembangan boarding school di SMP Katolik Mardi Wiyata Kediri dinilai dapat menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi sekolah menuju lembaga pendidikan unggulan yang mampu menjawab kebutuhan generasi masa depan.
Pendapat tersebut disampaikan jurnalis Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) Mikael Risdiyanto Setyabudi kepada media ini.
Menurutnya, konsep sekolah berasrama tidak boleh dipahami sekadar sebagai penambahan fasilitas asrama siswa. Boarding school harus dirancang sebagai sistem pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran akademik, pembentukan karakter, kedisiplinan, kecakapan hidup, teknologi, bahasa, serta pengembangan bakat siswa.
“Kalau boarding school hanya memindahkan tempat tinggal siswa dari rumah ke asrama, itu belum cukup. Yang harus dibangun adalah ekosistem pendidikan. Anak belajar bukan hanya di dalam kelas, tetapi selama 24 jam melalui budaya sekolah yang positif,” ujar Mikael.
Menurutnya, SMPK Mardi Wiyata Kediri memiliki modal awal untuk mengembangkan konsep tersebut. Sekolah ini sebelumnya telah melakukan berbagai inovasi pembelajaran dan pengembangan kompetensi siswa, salah satunya melalui penguatan kemampuan bahasa asing yakni TRILINGUAL.
Pada Mei 2026, SMPK Mardi Wiyata Kediri diberitakan mengembangkan konsep trilingual melalui Kampung Inggris Mardi Wiyata dan Kampung Mandarin Mardi Wiyata sebagai bagian dari upaya membekali siswa menghadapi tantangan era modern.
Selain bahasa asing, SMPK Mardi Wiyata juga membekali siswa dengan keterampilan menjadi pembawa acara atau master of ceremony (MC) serta pelatihan jurnalistik yang dimentori jurnalis berkompeten. Sekolah juga mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak melalui pendekatan pentaheliks.
Bagi Mikael, arah tersebut harus diperluas apabila boarding school benar-benar diwujudkan.
Ia menilai program asrama dapat menjadi ruang untuk memperkuat budaya belajar. Siswa dapat memperoleh pendampingan akademik setelah jam pelajaran, mengikuti kegiatan pengembangan minat dan bakat, belajar bahasa asing secara intensif, serta mendapatkan pendidikan karakter melalui rutinitas kehidupan bersama.
“Boarding school harus memiliki keunggulan yang jelas. Orang tua harus bisa menjawab satu pertanyaan: apa yang membedakan lulusan SMPK Mardi Wiyata dengan lulusan sekolah lain?” katanya.
Pertanyaan tersebut dinilai penting karena persaingan antar-sekolah semakin ketat. Pemerintah dan berbagai lembaga pendidikan di Kediri juga mulai mengembangkan model pendidikan berasrama.
Karena itu, SMPK Mardi Wiyata tidak cukup hanya mengikuti tren boarding school.
*Sekolah harus memiliki identitas dan keunggulan yang kuat*
Mikael menyebut sedikitnya lima fondasi yang perlu diperhatikan, yakni kualitas guru dan pendamping asrama, kurikulum yang menggabungkan akademik dan karakter, penguasaan teknologi dan literasi digital, kemampuan bahasa asing, serta pembinaan kemandirian dan kepemimpinan siswa.
“Jangan sampai gedung asramanya bagus, tetapi sistem pendidikannya biasa-biasa saja. Sekolah unggulan dibangun dari kualitas manusia dan sistem, bukan hanya dari bangunan,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan asrama justru harus menjadi laboratorium pembentukan karakter. Siswa dapat dilatih mengatur waktu, menjaga kebersihan, bertanggung jawab terhadap tugas, bekerja sama, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Hal tersebut penting karena pendidikan dasar tidak boleh hanya mengejar nilai akademik.
Mikael menilai sekolah unggulan masa depan harus mampu menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu bekerja sama. Kemampuan tersebut harus berjalan bersama dengan karakter, integritas, dan kepedulian sosial.
Ia juga mendorong agar konsep boarding school SMPK Mardi Wiyata Kediri membuka ruang kolaborasi dengan alumni, perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Kalau ingin menjadi sekolah unggulan, jangan membangun sekolah secara eksklusif. Bangun jejaring. Alumni bisa menjadi mentor, perguruan tinggi menjadi mitra akademik, dunia usaha menjadi mitra keterampilan, dan pemerintah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan,” jelasnya.
Selain itu, menurut Mikael, aspek keamanan, kesehatan, psikologis siswa, dan komunikasi dengan orang tua harus menjadi perhatian utama. Boarding school tidak boleh membuat siswa kehilangan hubungan dengan keluarga.
“Anak tetap membutuhkan keluarga. Asrama harus menjadi rumah kedua, bukan menggantikan rumah pertama,” ujarnya.
Mikael juga mengapresiasi langkah SMPK Mardi Wiyata yang terus menggali potensi siswa melalui berbagai kegiatan. Pengembangan seni dan budaya, misalnya, telah menjadi salah satu bagian dari upaya sekolah untuk menemukan dan mengembangkan potensi peserta didik.
Ia berharap seluruh inovasi tersebut nantinya tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi dalam sebuah peta jalan menuju sekolah unggulan.
“Boarding school harus menjadi bagian dari grand design. Ada target lima tahun, sepuluh tahun, bahkan lebih jauh. Harus jelas standar lulusan, kompetensi guru, program unggulan, fasilitas, kemitraan, hingga indikator keberhasilannya,” katanya.
Dikatakan Mikael, keberhasilan SMPK Mardi Wiyata Kediri nantinya bukan semata-mata diukur dari jumlah siswa yang diterima atau kemegahan fasilitas sekolah. Ukuran paling penting adalah kualitas lulusan dan kontribusinya di tengah masyarakat.
“Sekolah unggulan bukan sekolah yang paling mahal atau paling megah. Sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu melahirkan manusia unggul,” tandas jurnalis Pikiran Rakyat Media Network tersebut.
Dengan demikian, rencana boarding school dapat menjadi momentum penting bagi SMPK Mardi Wiyata Kediri untuk melakukan lompatan menuju sekolah unggulan. Namun, lompatan tersebut hanya akan bermakna jika dibarengi visi yang jelas, tata kelola profesional, guru berkualitas, dan keberanian membangun model pendidikan yang memiliki keunggulan serta karakter kuat.


